Sunday, September 28, 2014

Regret


   Sebut saja namaku Fani, aku anak tunggal yang riang namun pendendam. Dulu waktu ku kecil aku selalu di didik orang tuaku dengan moral, sifat, sopan santun yang terbaik, tetapi itu hanya sia-sia setelah ku beranjak 10th dan menginjak masa remaja yang sering di sebut dengan sebutan “liar”. Dulu waktu kecil ortu selalu bilang “harus selalu ucapkan salam saat masuk kedalam rumah”, “saling menghormati” atau apalah. Tapi itu dulu sewaktu aku masih kecil. Dan tentunya sebelum menginjak tahun yang sebentar lagi remaja. Waktu terus berputar dan aku lambat laun semakin besar pemikiranku untuk melakukan sesuatu. Aku masih sekolah dan duduk di kelas 1 di sekolah menengah pertama terfavorit di sebuah kota yang besar di pusat kota aku memang pintar, cerdas tetapi aku terkadang merasa bodoh dengan egoku sendiri. Aku di ajarkan gurukku dengan sopan santun dan ramah tetapi aku selalu mengejeknya ataupun mencercannya dengan kata-kata pedas. “Guru kolot, jelek, lamban” yaaa, namun gurukku selalu sabar menghadapi tingkahkku yang selalu nyeleneh, tapi tidak dengan guru BK ku yang galaknya minta ampun, kaya monsternya di One Piece besar banget sebut saja namanya Bu Praptik. Waktu itu aku bertengkar dengan teman sekelasku di karenakan saling ejek orangtua, salah satu dari kami tidak terima dengan ejekan yang di lontarkan temanku sebut saja namanya Toni, dia pertama memukul kepalaku namun meleset dan aku balas pukulannya dan mengenai rahangnnya dan darah bercucuran, teman-teman yang lain hanya melihat, lalu ada guru yang bingung kenapa ada keramaian. Dan melihat bahwa aku dan Toni sedang berkelahi, lalu kami dilerai oleh salah satu teman kami yang badanya agak besar dan di bawa keruang BK di situlah aku di ceramahi sang guru BK sampai 2jam aku dan Toni duduk disana, akhirnya aku membantah dan membentak guru BK di depan guru-guru lainnya yang melihat. Lalu aku keluar dari ruang BK dan mengambil tas di kelas lalu pulang, padahal masih ada pelajaran waktu itu, tapi tak ku hiraukan, dan aku putuskan hari rabu besok aku tak berangkat ke sekolah, padahal besok ada tes tapi tak apalah, dan hari rabu telah terlewati sedikit bosan memang di rumah, dan hari kamis pun dating. Aku mengikuti pelajaran biasa walaupun kadang aku tidak mendengarkan apa yang di bicarakan guruku. “Creeeeeeng” lonceng telah berbunyi dan bergegaslah aku pulang dengan tergesa-gesa karena ada yang harus aku lakukan di rumah, apalagi kalau ga main game haha, memang seru.. Tiba-tiba ibu memanggil Fani.. Fani… Ibu dapat surat dari sekolahmu kalau kamu harus di keluarkan di sekolah karna kamu sudah berbuat salah. Apa yang kamu lakukan kemarin? Ibu bertanya, tidak melakukan apa-apa bu… Aku sedang asyik bermain game dan tiba-tiba ibu membanting PSku dan waktu itu aku terdiam tanpa kata, dan ibu tanya lagi tentang tadi, apa yang kamu lakuin di sekolah kemarin? Aku menjawab, aku memukul temanku dan membentak bu Praptik guru BK bu.. Kenapa km nglakuin ini semua? Ibu bertanya, soalnya dia ngejek nama ibu sama bapak, makanya aku ga trima terus langsung aku tonjok dia bu.. Ibu langsung menjawab kamu harus pertanggung jawabin apa yang kamu lakuin kemarin, kalau bu guru ngmong “kamu harus keluar dari sekolah, yaudah keluar aja”. Dan akhirnya aku keluar dari sekolah karna hal sepele dan gak masuk akal. Dan seharian aku dirumah terasa membosankan, PS rusak, ortu juga tidak ada yang peduli dengan ku lagi dan aku putuskan besok pagi aku keluar dari rumah dan tak akan pernah kembali lagi. Dan aku hidup di jalanan sendirian selama tiga hari dan taka ada yang peduli padaku. Lapar, sepi, dan butuh kasih sayang yang benar-benar tulus dari orangtua, tapi kadang aku berfikir temanku dan semuanya, mereka sebenarnya telanjang.. Iya telanjang dengan sifat dan egonya yang setiap hari membakar tubuh mereka habis-habisan.. dan kadang aku juga berfikir, mereka juga suka menjegal.. Iya mereka menjegal kesenanganku, dan tak suka jika melihatku senang, karna menurut penilaianya senang-senangku membawa petaka dan masalah besar, dan aku juga kadang termenung diam kadang hidup itu tak adil dan seakan tak akan membiarkan kita mampu melewati suatu masalah yang membuat kita tertekan, tapi tak apa jalani aja kataku dalam hati, aku terus mencari cara untuk mendapatkan teman dari jalanan yang liar ini, penuh kejahatan dan tak adil, dan di penuhi rasa sakit di hati. Akhirnya aku menemukan teman yang selalu menemaniku dan menjadi teman curhatku, sebut saja namanya Doni, dia seorang pengamen jalanan yang nasibnya hamper sama sepertiku, dia baik dan pengertian, lalu kami jalani waktu-waktu bersama, hampir 3 tahun aku hidup di jalanan, kami berbagi cerita, pengalaman dan saling peduli, tetapi, seiring jalannya waktu sifatnya semakin aneh dan tak seperti biasanya, dan aku tidak tau kenapa. Dia meninggalkan ku saat ku sedang tertidur pulas, sekitar jam 10 siang aku mencarinya kesana kemari tapi tak kutemukan dia, dimana dia, aku kesepian disini, tak tau harus berbuat apa, dan dengan siapa aku curhat untuk meluapkan kegundahan di hati ini, dan di saat aku sedang mencarinya, aku bertemu dengan teman sekelasku Toni, yang dulu pernah bertengkar dengan ku, aku sebenarnya masih ada rasa dendam denganya. Lalu aku panggil dia dari kejauhan dan meletakan minumanya di meja di sebuah warung kecil lalu dia menghampiriku, lalu aku memukulnya dengan keras dan dia oleng ke pinggir jalan, dan kami terlibat saling pukul dan tak ada yang melerai, orang-orang di sana hanya melihat dan sebenarnya yang seperti ini bukan barang tontonan dan tak boleh di tiru oleh siapapun dan melukai seseorang tanpa sebab itu tidak boleh, akhirnya dia memukulku dan giliran aku yang dibuatnya oleng ke pinggir jalan, lalu Toni berkata “kau itu tidak pantas hidup, walaupun kau hidup itupun taka da gunanya, kau itu hanya menyusahkan saja, kau seperti nyamuk yang mengganggu dan harus di bunuh”. Aku tidak bisa apa-apa, dan berkatapun sudah tak bisa, karna pukulan keras dari Toni tadi membuatku terkapar dan tak berdaya. Lalu Toni mengambil pisau kecil di belakang bajunya, dan di tusukanya pisau itu ke perutku menusukan ke seluruh bagian tubuhku kecuali kepala, dia mencabik-cabik seluruh tubuhku dan aku tak bisa berkata, dan hanya melihat apa yang terjadi dan setengah sadar, lalu Toni melarikan diri entah kemana.. Dan aku menatap ke atas dengan pandangan kosong, aku berkata dalam hati “Semua ini kesalahanku, maafkan aku ibu, ayah, maafkan aku teman-teman ku tak terkecuali Toni yang berusaha membalaskan dendamnya kepadaku”. Dan badan ku di angkat oleh seseorang dan dibawa ke rumah sakit terdekat. Dan aku di nyatakan tewas di rumah sakit itu. Aku melihat bagian tubuhku telah memudar dengan darah yang berceceran di mana-mana, dan aku tak tau mau aku bawa kemana jiwa yang kosong tanpa raga dan di penuhi dosa yang tak akan pernah surut. Dan selang 2 hari, ragaku sudah di bawa kerumah oleh keluargaku dan segera di kuburkan di kuburan terdekat, agar jiwaku tenang disana. Setelah ragaku terkubur jiwaku mengikuti ragaku keliang kubur, aku merasa di sini tempat yang gelap, tak ada lampu, tak ada teman dan sunyi. Orang yang telah layat dan usai menguburkan raga dan jiwaku perlahan meninggalkanku dan mulai terasa sunyi, tiba-tiba aku merasakan panas da nada yang berbicara padaku dan berusaha memberiku pertanyaan yang sangat mengerikan, jiwa dan ragaku mulai terbakar habis dan tak tersisa, dan di ulangi terus menerus. Aku merasa rindu dengan orangtua yang aku sayangi dan teman-temanku yang aku kasihi, rasanya ingin bertemu dengan mereka, aku sangat rindu mereka, tanpa sadar air mataku menetes dan hatiku terasa tercabik-cabik dengan rasa penyesalanku. Aku bertanya pada diriku, kenapa aku melakukan semua ini dan baru merasakan resiko itu sekarang?. Dan jika waktu bisa di putar kembali, aku tak akan menyia-nyiakan kesempatan itu dan selalu berbuat baik pada seseorang, namun semua itu hanya sia-sia, tubuhku sudah tidak berbentuk seperti manusia biasa, aku ini sudah menjadi daging busuk yang hanya membuat orang menyingkir bila dekat dengan ku, tubuhku tak berdaya, di penuhi belatung yang menggerogoti tubuhku yang mulai habis. Dan bukan hanya tubuhku mati, tetapi jiwaku juga mati dengan siksaan hidup.

by: azizbardja


Follow my Instagram: @azizbardja

No comments:

Post a Comment

Komentar cerdas menunjukan budaya yang baik!

Rantai Harap

   Kasus-kasus tentunya berharga Kejadian selalu tak terbendung Hidup seakan rantai makanan Selalu berputar secara sistematis Terjebak...