Sebut saja namaku Fani, aku anak tunggal yang riang
namun pendendam. Dulu waktu ku kecil aku selalu di didik orang tuaku dengan
moral, sifat, sopan santun yang terbaik, tetapi itu hanya sia-sia setelah ku
beranjak 10th dan menginjak masa remaja yang sering di sebut dengan
sebutan “liar”. Dulu waktu kecil ortu selalu bilang “harus selalu ucapkan salam
saat masuk kedalam rumah”, “saling menghormati” atau apalah. Tapi itu dulu
sewaktu aku masih kecil. Dan tentunya sebelum menginjak tahun yang sebentar
lagi remaja. Waktu terus berputar dan aku lambat laun semakin besar pemikiranku
untuk melakukan sesuatu. Aku masih sekolah dan duduk di kelas 1 di sekolah
menengah pertama terfavorit di sebuah kota yang besar di pusat kota aku memang
pintar, cerdas tetapi aku terkadang merasa bodoh dengan egoku sendiri. Aku di
ajarkan gurukku dengan sopan santun dan ramah tetapi aku selalu mengejeknya
ataupun mencercannya dengan kata-kata pedas. “Guru kolot, jelek, lamban” yaaa,
namun gurukku selalu sabar menghadapi tingkahkku yang selalu nyeleneh, tapi
tidak dengan guru BK ku yang galaknya minta ampun, kaya monsternya di One Piece
besar banget sebut saja namanya Bu Praptik. Waktu itu aku bertengkar dengan
teman sekelasku di karenakan saling ejek orangtua, salah satu dari kami tidak
terima dengan ejekan yang di lontarkan temanku sebut saja namanya Toni, dia
pertama memukul kepalaku namun meleset dan aku balas pukulannya dan mengenai
rahangnnya dan darah bercucuran, teman-teman yang lain hanya melihat, lalu ada
guru yang bingung kenapa ada keramaian. Dan melihat bahwa aku dan Toni sedang
berkelahi, lalu kami dilerai oleh salah satu teman kami yang badanya agak besar
dan di bawa keruang BK di situlah aku di ceramahi sang guru BK sampai 2jam aku
dan Toni duduk disana, akhirnya aku membantah dan membentak guru BK di depan
guru-guru lainnya yang melihat. Lalu aku keluar dari ruang BK dan mengambil tas
di kelas lalu pulang, padahal masih ada pelajaran waktu itu, tapi tak ku
hiraukan, dan aku putuskan hari rabu besok aku tak berangkat ke sekolah,
padahal besok ada tes tapi tak apalah, dan hari rabu telah terlewati sedikit
bosan memang di rumah, dan hari kamis pun dating. Aku mengikuti pelajaran biasa
walaupun kadang aku tidak mendengarkan apa yang di bicarakan guruku.
“Creeeeeeng” lonceng telah berbunyi dan bergegaslah aku pulang dengan
tergesa-gesa karena ada yang harus aku lakukan di rumah, apalagi kalau ga main
game haha, memang seru.. Tiba-tiba ibu memanggil Fani.. Fani… Ibu dapat surat
dari sekolahmu kalau kamu harus di keluarkan di sekolah karna kamu sudah
berbuat salah. Apa yang kamu lakukan kemarin? Ibu bertanya, tidak melakukan
apa-apa bu… Aku sedang asyik bermain game dan tiba-tiba ibu membanting PSku dan
waktu itu aku terdiam tanpa kata, dan ibu tanya lagi tentang tadi, apa yang
kamu lakuin di sekolah kemarin? Aku menjawab, aku memukul temanku dan membentak
bu Praptik guru BK bu.. Kenapa km nglakuin ini semua? Ibu bertanya, soalnya dia
ngejek nama ibu sama bapak, makanya aku ga trima terus langsung aku tonjok dia
bu.. Ibu langsung menjawab kamu harus pertanggung jawabin apa yang kamu lakuin
kemarin, kalau bu guru ngmong “kamu harus keluar dari sekolah, yaudah keluar
aja”. Dan akhirnya aku keluar dari sekolah karna hal sepele dan gak masuk akal.
Dan seharian aku dirumah terasa membosankan, PS rusak, ortu juga tidak ada yang
peduli dengan ku lagi dan aku putuskan besok pagi aku keluar dari rumah dan tak
akan pernah kembali lagi. Dan aku hidup di jalanan sendirian selama tiga hari
dan taka ada yang peduli padaku. Lapar, sepi, dan butuh kasih sayang yang
benar-benar tulus dari orangtua, tapi kadang aku berfikir temanku dan semuanya,
mereka sebenarnya telanjang.. Iya telanjang dengan sifat dan egonya yang setiap
hari membakar tubuh mereka habis-habisan.. dan kadang aku juga berfikir, mereka
juga suka menjegal.. Iya mereka menjegal kesenanganku, dan tak suka jika
melihatku senang, karna menurut penilaianya senang-senangku membawa petaka dan
masalah besar, dan aku juga kadang termenung diam kadang hidup itu tak adil dan
seakan tak akan membiarkan kita mampu melewati suatu masalah yang membuat kita
tertekan, tapi tak apa jalani aja kataku dalam hati, aku terus mencari cara
untuk mendapatkan teman dari jalanan yang liar ini, penuh kejahatan dan tak
adil, dan di penuhi rasa sakit di hati. Akhirnya aku menemukan teman yang
selalu menemaniku dan menjadi teman curhatku, sebut saja namanya Doni, dia
seorang pengamen jalanan yang nasibnya hamper sama sepertiku, dia baik dan
pengertian, lalu kami jalani waktu-waktu bersama, hampir 3 tahun aku hidup di
jalanan, kami berbagi cerita, pengalaman dan saling peduli, tetapi, seiring
jalannya waktu sifatnya semakin aneh dan tak seperti biasanya, dan aku tidak
tau kenapa. Dia meninggalkan ku saat ku sedang tertidur pulas, sekitar jam 10
siang aku mencarinya kesana kemari tapi tak kutemukan dia, dimana dia, aku
kesepian disini, tak tau harus berbuat apa, dan dengan siapa aku curhat untuk
meluapkan kegundahan di hati ini, dan di saat aku sedang mencarinya, aku
bertemu dengan teman sekelasku Toni, yang dulu pernah bertengkar dengan ku, aku
sebenarnya masih ada rasa dendam denganya. Lalu aku panggil dia dari kejauhan
dan meletakan minumanya di meja di sebuah warung kecil lalu dia menghampiriku,
lalu aku memukulnya dengan keras dan dia oleng ke pinggir jalan, dan kami
terlibat saling pukul dan tak ada yang melerai, orang-orang di sana hanya
melihat dan sebenarnya yang seperti ini bukan barang tontonan dan tak boleh di
tiru oleh siapapun dan melukai seseorang tanpa sebab itu tidak boleh, akhirnya
dia memukulku dan giliran aku yang dibuatnya oleng ke pinggir jalan, lalu Toni
berkata “kau itu tidak pantas hidup, walaupun kau hidup itupun taka da gunanya,
kau itu hanya menyusahkan saja, kau seperti nyamuk yang mengganggu dan harus di
bunuh”. Aku tidak bisa apa-apa, dan berkatapun sudah tak bisa, karna pukulan
keras dari Toni tadi membuatku terkapar dan tak berdaya. Lalu Toni mengambil
pisau kecil di belakang bajunya, dan di tusukanya pisau itu ke perutku
menusukan ke seluruh bagian tubuhku kecuali kepala, dia mencabik-cabik seluruh
tubuhku dan aku tak bisa berkata, dan hanya melihat apa yang terjadi dan
setengah sadar, lalu Toni melarikan diri entah kemana.. Dan aku menatap ke atas
dengan pandangan kosong, aku berkata dalam hati “Semua ini kesalahanku, maafkan
aku ibu, ayah, maafkan aku teman-teman ku tak terkecuali Toni yang berusaha
membalaskan dendamnya kepadaku”. Dan badan ku di angkat oleh seseorang dan
dibawa ke rumah sakit terdekat. Dan aku di nyatakan tewas di rumah sakit itu.
Aku melihat bagian tubuhku telah memudar dengan darah yang berceceran di
mana-mana, dan aku tak tau mau aku bawa kemana jiwa yang kosong tanpa raga dan
di penuhi dosa yang tak akan pernah surut. Dan selang 2 hari, ragaku sudah di
bawa kerumah oleh keluargaku dan segera di kuburkan di kuburan terdekat, agar
jiwaku tenang disana. Setelah ragaku terkubur jiwaku mengikuti ragaku keliang
kubur, aku merasa di sini tempat yang gelap, tak ada lampu, tak ada teman dan
sunyi. Orang yang telah layat dan usai menguburkan raga dan jiwaku perlahan
meninggalkanku dan mulai terasa sunyi, tiba-tiba aku merasakan panas da nada
yang berbicara padaku dan berusaha memberiku pertanyaan yang sangat mengerikan,
jiwa dan ragaku mulai terbakar habis dan tak tersisa, dan di ulangi terus
menerus. Aku merasa rindu dengan orangtua yang aku sayangi dan teman-temanku
yang aku kasihi, rasanya ingin bertemu dengan mereka, aku sangat rindu mereka,
tanpa sadar air mataku menetes dan hatiku terasa tercabik-cabik dengan rasa
penyesalanku. Aku bertanya pada diriku, kenapa aku melakukan semua ini dan baru
merasakan resiko itu sekarang?. Dan jika waktu bisa di putar kembali, aku tak
akan menyia-nyiakan kesempatan itu dan selalu berbuat baik pada seseorang,
namun semua itu hanya sia-sia, tubuhku sudah tidak berbentuk seperti manusia
biasa, aku ini sudah menjadi daging busuk yang hanya membuat orang menyingkir
bila dekat dengan ku, tubuhku tak berdaya, di penuhi belatung yang menggerogoti
tubuhku yang mulai habis. Dan bukan hanya tubuhku mati, tetapi jiwaku juga mati
dengan siksaan hidup.
Follow my Instagram: @azizbardja



