Sunday, November 2, 2014

Beautiful Time In The Future


Pada akhirnya semua telah berakhir dengan damai, dan aku bisa merasakan kesenangan dan bahagia yang dari dulu belum pernah aku rasakan bersama orang yang ada di dekatku selama ini. pepatah pernah mengatakan bahwa semua akan indah pada waktunya, dan itu sudah aku buktikan.

Ya nama aku Deni aku sedang menjalani kuliah yang masih berlangsung selama beberapa semester. Aku bukan orang yang pintar dan bukan juga yang bodoh dan tentunya, aku bukan anak dari orang yang suka menghamburkan uangnya untuk berfoya-foya ataupun menderita. Hidupku sederhana tetapi tetap ingin mendapatkan hidup yang layak suatu hari nanti. Akupun juga berusaha untuk membahagiakan orang tua ku, ya itu prioritas utamaku, menjadi seseorang yang sudah 1,5 tahun jauh dari orang tua untuk menimba ilmu dan jadi anak yang berbakti orang tua. Aku sudah 2 tahun lamanya mengindap penyakit paru-paru parah dan anehnya orang tua ku tidak tau menau tentang penyakitku ini dan aku tidak mau juga semua orang tau tentang penyakitku ini, aku juga mempunyai sahabat yang selalu mengerti semuanya dan selalu terbuka dan fair denganku sebut saja namanya Dini, Geny, Nisa mereka sangat baik pada ku semoga sampai kapan pun.

Pada pagi hari aku bersiap untuk berangkat kuliah menjalani rutinitasku yang setiap hari aku lakukan dan tanpa sadar membuatku bosan, tetapi mau bagaimana lagi. Ini tujuanku untuk menggapai cita-cita ku untuk masa depan ku, di perkuliahan aku terkadang merasa paling rendah di antara teman-teman yang lain, tetapi kenapa aku bisa masuk di universitas yang bilangnya besar dan banyak penghargaan yang sudah masuk universitas ini. Waktu itu aku sedang mengerjakan tugas dengan Dini dan Geny, aku sedang mengerjakan tugas yang biasa di bilang mahasiswa dengan sebutan dosen killer. Aku sedang sibuk membuat tugas tetapi Dini dan Geny dengan santainya mengobrol di depanku dan tak membantuku, sejujurnya aku tidak suka dengan sifatnya dan egonya itu, tetapi mau bagaimana lagi mereka sahabatku.

Aku bingung hari semakin bertambah, sifat mereka semakin berubah dan menjauh dariku entah kenapa. Suatu hari aku merasa sakit hati yang begitu dalam, aku merasa seperti di manfaatkan oleh mereka, aku tidak tahu mengapa seperti ini, dan ini kesempatanku untuk berbicara pada mereka. Dan sempat ada ketegangan di antara kami. Sebenarnya aku tidak tega jika aku berbicara seperti ini, tetapi kondisi ini memaksaku harus berbicara pada mereka, aku yang mulai pembicaraan dengan mereka saat mereka juga saling berbicara dan aku memotong pembicaraanya. Dini, Geny aku ingin jujur pada kalian, aku tidak suka sifat kalian belakangan ini. Kalian seperti memanfaatkan aku dan apa maksud kalian seperti ini? Dini dan Geny menjawab serentak, maksudnya bagaimana Den? Ya aku merasa kalian memanfaatkan aku dari segi apapun, dan aku tidak suka cara kalian, aku mohon rubah sifat kalian yang tidak aku suka. Dini, maaf Den tetapi aku tidak pernah merasa memanfaatkanmu. Tapi Din ada buktinya kalau kamu memanfaatkan aku, seperti kalau aku sedang membuat tugas, kalian justru santai mengobrol sedangkan aku saja yang sibuk membuat tugasnya, jujur saja Din, Gen aku sudah tidak kuat dengan kalian, tetapi siapa lagi kalau bukan kalian? Mana teman yang dulu pernah janji bakal mendukung satu sama lain? Aku kecewa sama kalian. Aku melihat wajah-wajah bersalah di sana dan Geny sepatah katapun dia lontarkan dari mulutnya yang manis.

Setiba di kos aku merenungkan diri dengan apa yang telah aku lakukan hari ini, jujur aku menyesal telah mengatakan ini semua, tetapi ini semua sudah berlalu begitu cepat. Aku sedang berfikir Dini dan Gen sedang apa disana? Biasanya mereka selalu bermain ke kosku setelah maghrib dan bercanda ataupun serius membuat tugas tapi sekarang di kos tepatnya di kamarku sepi dan akupun bosan, jenuh dan mulai diambang kebosanan dan kehilangan semangat. Akupun hangout sendiri di caffe yang aku sebut itu adalah basecampku dan sahabatku tetapi aku disini sendirian, aku hanya memesan secangkir kopi panas dan 1 batang rokok. Ya aku seorang perokok berat yang semantara ini tidak bisa aku hilangkan di setiap hariku untuk meredakan pikiran dan kejenuhan. Disela aku sedang menghisap rokok, aku melihat ada gadis cantik yang sedang duduk sendirian di meja 4. Rupanya yang cantik, anggun, dan memiliki mata yang bersinar aku kagum padanya dan tanpa aku sadari akupun jatuh cinta padanya padahal baru wal bertemu denganya. Akupun tidak segan-segan untuk mendekatinya hanya sekedar untuk berkenalan dan berbincang denganya. Namanya Qurotunisa sering dipanggil Nisa, dia sedikit tertutup dengan kepribadianya namun aku nyaman denganya dan aku meminta nomer hp hanya sekedar ingin curhat atau bertemu lagi suatu saat nanti. Ini awalku bertemu dengan gadis dan langsung jatuh cinta denganya. Waktupun mulai menunjukan pukul 10 malam akupun memutuskan untuk segera pulang ke kos dan meninggalkan Nisa disana. Setelah tiba di kos dengan perasaan hampa bercampur senang memikirkan gadis bernama Nisa yang bertemu di caffe tadi.

Aku tidak tahu harus berbuat apa, dan tugaspun belum aku sentuh sama sekali, rasanya semangatku setengah-setengah untuk mengerjakan tugas. aku putuskan untuk mengambil hp dan aku memulai dengan sambutan hangat. Di sms hubunganku dengan Nisa semakin nyaman padahal baru awal bertemu dan dengan cara sms aku bisa lebih dekat denganya. Dan Nisa berhasil membuatku melupakan masalah dengan sahabat-sahabatku kemarin, bahkan akupun tidak menjadikan kemarin adalah sebuah masalah dan kembali bersemangat untuk membuat tugas selesai pada malam itu.

Keesokan harinya seperti biasa aku berangkat kuliah pagi dengan membawa tugas seambrek tuntutan dosen dan melukiskan senyum lebar di wajahku. Ya mahasiswa selalu menganggap dosen itu adalah dewanya haha. Lalu aku mendekati Dini dan Geny pertamanya hanya berbasa-basi tetapi selanjutnya kami kembali akrab dan menganggap kemarin bukan sebuah masalah lagi, Kami berbincang seperti biasanya dan saling curhat setelah pulang kuliah, ya seperti biasa kuliah tidak ada dosen yang masuk dan di kampus sekedar mengumpulkan tugas lalu pulang.

Akhirnya kamipun bisa berkumpul bersama kembali di kosku seperti biasanya, tidak ada tugas untuk esok, kamipun bersantai dan mengawali curhat. Hey Dini, Geny aku kemarin bertemu dengan gadis anggun dan cantiknya begitu memanah hatiku. Dini menjawab siapa namanya? Nisa namanya kau tau awal bertemu dia aku seketika merasakan apa itu yang disebut cinta. Geny hanya diam, Dini menjawab oh ya? Memang siapa dia yang bisa membuatmu seketika jatuh cinta? Aku menjawab sejujurnya aku belum tau pasti siapa dia, dia sedikit tertutup tetapi entah kenapa aku nyaman denganya. Dini menjawab Haah? Kamu aneh ya Den, bisa seperti itu?. Geny pun hanya terdiam dan tiba-tiba dia mengajak Dini untuk segera pulang sesegera mungkin. Lhoh kalian mau kemana ko pulang secepat itu? Masih jam segini, biasanya kalian pulang larut malam?. Mereka pun tidak menjawab sepatah kata apapun. Aku tidak tahu kenapa.

Setelah itu aku masuk kekamar seperti biasa dan memikirkan kenapa Geny hanya terdiam tadi? Kenapa dia juga langsung mengajak pulang Dini begitu cepat? Apa salahku sehingga mereka seperti itu?. Aku bingung, apa yang harus aku lakukan. Badan mulai lemas seiring malam tiba dan akhirnya aku memutuskan untuk berbaring dan tertidur pulas.

Tiga hari berlalu Geny tetap hanya terdiam di kampus, Dini pun juga tidak mengerti kenapa dia seperti ini dan tidak seperti biasanya. Aku membujuk Geny tetapi dia hanya terdiam. Sifatnya terlihat aneh belakangan ini. Aku harus menyelidikinya sampai dapat.

Setelah aku selidiki sendiri, usut punya usut ternyata Geny cemburu padaku karena aku sedang dekat dengan seorang gadis yang aku temui di caffe waktu itu, aku tidak tahu harus bagaimana lagi aku bingung menghadapi ini semua. Geny sahabatku tetapi aku cinta dan sayang hanya kepada Nisa seorang. Aku berbicara dalam hati “Tuhan apa yang harus aku lakukan? Mohon bantu aku, tunjukan jalan yang lurus untuk hidupku yang di banjiri dengan segudang masalah yang hampir memakan diriku sendiri seiring berjalanya waktu”. Tidak hanya aku Dini pun mencoba untuk memberi saran kepadaku untuk meninggalkan gadis yang bernama Nisa itu. Tapi hatiku berkata tidak, karena aku sangat mencintainya, aku tidak bisa meninggalkanya dengan sekejap.

Hari mulai suram bagiku untuk menjalani hidup, maupun kuliahku yang sudah menginjak skripsi. Aku selalu memikirkan sahabatku juga skripsiku yang masih dalam proses penelitian dosen. Aku selalu berdoa agar semua bisa berjalan lancar dan aku tidak mau lagi berlama-lama berada disini. Bukanya melupakan masalah atau lari dari masalah, tetapi aku ingin mencoba untuk membalikan keadan seperti semula dan tanpa beban dari skripsiku.

Hari demi hari akhirnya skripsiku di setujui oleh dosen dan aku akhirnya lulus dan wisuda di hari itu juga. Aku bertemu dengan Geny, Dini dan tidak sengaja aku juga melihat Nisa yang ternyata juga satu perkuliahan yang sama denganku, tapi anehnya lagi dia sedang bergandengan dengan seorang pria yang juga berpakaian toga gagah, dan tampan. Hatiku lumpuh pada waktu itu dan tidak bisa berkata apapun. Lalu aku mendekati Geny dan aku berkata “Geny maafkan aku selama ini, aku tahu apa yang kau rasakan pada waktu lalu”. Geny menjawab Iya tidak apa-apa Den aku mengerti dan aku juga tahu diri siapa aku ini. Geny menjawab dengan senyuman yang manis dan belum pernah kulihat selama aku bersamanya.

Akhirnya acara wisuda telah selesai pada pukul 5 sore tepat sesudah penyerahan mahasiswa lulusan terbaik tahun itu. Tanpa aku sadari dan aku tidak percaya, akulah yang menjadi mahasiswa terbaik tahun itu, lalu aku mengucap kata syukur “Terimakasih Ya Tuhan, kau selalu membantu umatmu yang kesusahan”. Dan tepat pukul 07.30 setelah maghrib aku sudah memfikirkan hal ini dengan matang untuk mengungkapkan kata cintaku yang aku pendam selama ini terhadap Geny. Aku membawakan seutas bunga mawar pink kepadanya dan mengungkapan bahwa aku sudah suka dengan Geny sejak awal bertemu, tetapi aku tidak berani untuk mengungkapkanya dan berbicara jujur kalau aku mengungkapkan rasa cinta dan sayang kepada Nisa hanya pelampiasanku karena aku tidak sanggup mengungkapkan rasa cinta dan sayangku ke kamu Geny, sekali lagi maafkan aku. Lalu Geny menjawab “Iya aku maafkan”. Aku mengungkapkan perasaanku “apakah kau bersedia untukku lamar dirimu?” dan Geny berkata “Ya” dan tersenyum lebar. Akupun senang sekali akhirnya semua indah pada waktunya. Study lancar, Relationship juga lancar walaupun kadang relationship tidak selalu berjalan lancar.

Pada akhirnya Akupun menikahi Geny dan aku bekerja di perusahaan ternama, dan di karuniai putri kecil yang manis, hidup bahagia bersama sampai akhir hayat, Amin.

by: azizbardja


Follow my Instagram: @azizbardja

No comments:

Post a Comment

Komentar cerdas menunjukan budaya yang baik!

Rantai Harap

   Kasus-kasus tentunya berharga Kejadian selalu tak terbendung Hidup seakan rantai makanan Selalu berputar secara sistematis Terjebak...