Pada akhirnya semua telah berakhir dengan damai, dan
aku bisa merasakan kesenangan dan bahagia yang dari dulu belum pernah aku
rasakan bersama orang yang ada di dekatku selama ini. pepatah pernah mengatakan
bahwa semua akan indah pada waktunya, dan itu sudah aku buktikan.
Ya nama aku Deni aku
sedang menjalani kuliah yang masih berlangsung selama beberapa semester. Aku
bukan orang yang pintar dan bukan juga yang bodoh dan tentunya, aku bukan anak
dari orang yang suka menghamburkan uangnya untuk berfoya-foya ataupun menderita.
Hidupku sederhana tetapi tetap ingin mendapatkan hidup yang layak suatu hari
nanti. Akupun juga berusaha untuk membahagiakan orang tua ku, ya itu prioritas
utamaku, menjadi seseorang yang sudah 1,5 tahun jauh dari orang tua untuk
menimba ilmu dan jadi anak yang berbakti orang tua. Aku sudah 2 tahun lamanya mengindap
penyakit paru-paru parah dan anehnya orang tua ku tidak tau menau tentang
penyakitku ini dan aku tidak mau juga semua orang tau tentang penyakitku ini,
aku juga mempunyai sahabat yang selalu mengerti semuanya dan selalu terbuka dan
fair denganku sebut saja namanya Dini, Geny, Nisa mereka sangat baik pada ku
semoga sampai kapan pun.
Pada pagi hari aku
bersiap untuk berangkat kuliah menjalani rutinitasku yang setiap hari aku
lakukan dan tanpa sadar membuatku bosan, tetapi mau bagaimana lagi. Ini
tujuanku untuk menggapai cita-cita ku untuk masa depan ku, di perkuliahan aku
terkadang merasa paling rendah di antara teman-teman yang lain, tetapi kenapa
aku bisa masuk di universitas yang bilangnya besar dan banyak penghargaan yang
sudah masuk universitas ini. Waktu itu aku sedang mengerjakan tugas dengan Dini
dan Geny, aku sedang mengerjakan tugas yang biasa di bilang mahasiswa dengan
sebutan dosen killer. Aku sedang sibuk membuat tugas tetapi Dini dan Geny
dengan santainya mengobrol di depanku dan tak membantuku, sejujurnya aku tidak
suka dengan sifatnya dan egonya itu, tetapi mau bagaimana lagi mereka
sahabatku.
Aku bingung hari
semakin bertambah, sifat mereka semakin berubah dan menjauh dariku entah
kenapa. Suatu hari aku merasa sakit hati yang begitu dalam, aku merasa seperti
di manfaatkan oleh mereka, aku tidak tahu mengapa seperti ini, dan ini
kesempatanku untuk berbicara pada mereka. Dan sempat ada ketegangan di antara
kami. Sebenarnya aku tidak tega jika aku berbicara seperti ini, tetapi kondisi
ini memaksaku harus berbicara pada mereka, aku yang mulai pembicaraan dengan
mereka saat mereka juga saling berbicara dan aku memotong pembicaraanya. Dini,
Geny aku ingin jujur pada kalian, aku tidak suka sifat kalian belakangan ini.
Kalian seperti memanfaatkan aku dan apa maksud kalian seperti ini? Dini dan
Geny menjawab serentak, maksudnya bagaimana Den? Ya aku merasa kalian
memanfaatkan aku dari segi apapun, dan aku tidak suka cara kalian, aku mohon
rubah sifat kalian yang tidak aku suka. Dini, maaf Den tetapi aku tidak pernah
merasa memanfaatkanmu. Tapi Din ada buktinya kalau kamu memanfaatkan aku,
seperti kalau aku sedang membuat tugas, kalian justru santai mengobrol
sedangkan aku saja yang sibuk membuat tugasnya, jujur saja Din, Gen aku sudah
tidak kuat dengan kalian, tetapi siapa lagi kalau bukan kalian? Mana teman yang
dulu pernah janji bakal mendukung satu sama lain? Aku kecewa sama kalian. Aku
melihat wajah-wajah bersalah di sana dan Geny sepatah katapun dia lontarkan
dari mulutnya yang manis.
Setiba di kos aku
merenungkan diri dengan apa yang telah aku lakukan hari ini, jujur aku menyesal
telah mengatakan ini semua, tetapi ini semua sudah berlalu begitu cepat. Aku
sedang berfikir Dini dan Gen sedang apa disana? Biasanya mereka selalu bermain
ke kosku setelah maghrib dan bercanda ataupun serius membuat tugas tapi
sekarang di kos tepatnya di kamarku sepi dan akupun bosan, jenuh dan mulai
diambang kebosanan dan kehilangan semangat. Akupun hangout sendiri di caffe
yang aku sebut itu adalah basecampku dan sahabatku tetapi aku disini sendirian,
aku hanya memesan secangkir kopi panas dan 1 batang rokok. Ya aku seorang perokok
berat yang semantara ini tidak bisa aku hilangkan di setiap hariku untuk
meredakan pikiran dan kejenuhan. Disela aku sedang menghisap rokok, aku melihat
ada gadis cantik yang sedang duduk sendirian di meja 4. Rupanya yang cantik,
anggun, dan memiliki mata yang bersinar aku kagum padanya dan tanpa aku sadari
akupun jatuh cinta padanya padahal baru wal bertemu denganya. Akupun tidak
segan-segan untuk mendekatinya hanya sekedar untuk berkenalan dan berbincang
denganya. Namanya Qurotunisa sering dipanggil Nisa, dia sedikit tertutup dengan
kepribadianya namun aku nyaman denganya dan aku meminta nomer hp hanya sekedar
ingin curhat atau bertemu lagi suatu saat nanti. Ini awalku bertemu dengan gadis
dan langsung jatuh cinta denganya. Waktupun mulai menunjukan pukul 10 malam
akupun memutuskan untuk segera pulang ke kos dan meninggalkan Nisa disana.
Setelah tiba di kos dengan perasaan hampa bercampur senang memikirkan gadis
bernama Nisa yang bertemu di caffe tadi.
Aku tidak tahu harus berbuat
apa, dan tugaspun belum aku sentuh sama sekali, rasanya semangatku
setengah-setengah untuk mengerjakan tugas. aku putuskan untuk mengambil hp dan
aku memulai dengan sambutan hangat. Di sms hubunganku dengan Nisa semakin
nyaman padahal baru awal bertemu dan dengan cara sms aku bisa lebih dekat
denganya. Dan Nisa berhasil membuatku melupakan masalah dengan
sahabat-sahabatku kemarin, bahkan akupun tidak menjadikan kemarin adalah sebuah
masalah dan kembali bersemangat untuk membuat tugas selesai pada malam itu.
Keesokan harinya
seperti biasa aku berangkat kuliah pagi dengan membawa tugas seambrek tuntutan
dosen dan melukiskan senyum lebar di wajahku. Ya mahasiswa selalu menganggap dosen itu adalah dewanya haha. Lalu aku mendekati
Dini dan Geny pertamanya hanya berbasa-basi tetapi selanjutnya kami kembali
akrab dan menganggap kemarin bukan sebuah masalah lagi, Kami berbincang seperti
biasanya dan saling curhat setelah pulang kuliah, ya seperti biasa kuliah tidak
ada dosen yang masuk dan di kampus sekedar mengumpulkan tugas lalu pulang.
Akhirnya kamipun bisa
berkumpul bersama kembali di kosku seperti biasanya, tidak ada tugas untuk
esok, kamipun bersantai dan mengawali curhat. Hey Dini, Geny aku kemarin
bertemu dengan gadis anggun dan cantiknya begitu memanah hatiku. Dini menjawab
siapa namanya? Nisa namanya kau tau awal bertemu dia aku seketika merasakan apa
itu yang disebut cinta. Geny hanya diam, Dini menjawab oh ya? Memang siapa dia
yang bisa membuatmu seketika jatuh cinta? Aku menjawab sejujurnya aku belum tau
pasti siapa dia, dia sedikit tertutup tetapi entah kenapa aku nyaman denganya.
Dini menjawab Haah? Kamu aneh ya Den, bisa seperti itu?. Geny pun hanya terdiam
dan tiba-tiba dia mengajak Dini untuk segera pulang sesegera mungkin. Lhoh
kalian mau kemana ko pulang secepat itu? Masih jam segini, biasanya kalian
pulang larut malam?. Mereka pun tidak menjawab sepatah kata apapun. Aku tidak
tahu kenapa.
Setelah itu aku masuk
kekamar seperti biasa dan memikirkan kenapa Geny hanya terdiam tadi? Kenapa dia
juga langsung mengajak pulang Dini begitu cepat? Apa salahku sehingga mereka
seperti itu?. Aku bingung, apa yang harus aku lakukan. Badan mulai lemas seiring
malam tiba dan akhirnya aku memutuskan untuk berbaring dan tertidur pulas.
Tiga hari berlalu Geny
tetap hanya terdiam di kampus, Dini pun juga tidak mengerti kenapa dia seperti
ini dan tidak seperti biasanya. Aku membujuk Geny tetapi dia hanya terdiam.
Sifatnya terlihat aneh belakangan ini. Aku harus menyelidikinya sampai dapat.
Setelah aku selidiki
sendiri, usut punya usut ternyata Geny cemburu padaku karena aku sedang dekat
dengan seorang gadis yang aku temui di caffe waktu itu, aku tidak tahu harus
bagaimana lagi aku bingung menghadapi ini semua. Geny sahabatku tetapi aku
cinta dan sayang hanya kepada Nisa seorang. Aku berbicara dalam hati “Tuhan apa
yang harus aku lakukan? Mohon bantu aku, tunjukan jalan yang lurus untuk
hidupku yang di banjiri dengan segudang masalah yang hampir memakan diriku
sendiri seiring berjalanya waktu”. Tidak hanya aku Dini pun mencoba untuk
memberi saran kepadaku untuk meninggalkan gadis yang bernama Nisa itu. Tapi
hatiku berkata tidak, karena aku sangat mencintainya, aku tidak bisa
meninggalkanya dengan sekejap.
Hari mulai suram bagiku
untuk menjalani hidup, maupun kuliahku yang sudah menginjak skripsi. Aku selalu
memikirkan sahabatku juga skripsiku yang masih dalam proses penelitian dosen.
Aku selalu berdoa agar semua bisa berjalan lancar dan aku tidak mau lagi
berlama-lama berada disini. Bukanya melupakan masalah atau lari dari masalah,
tetapi aku ingin mencoba untuk membalikan keadan seperti semula dan tanpa beban
dari skripsiku.
Hari demi hari akhirnya
skripsiku di setujui oleh dosen dan aku akhirnya lulus dan wisuda di hari itu
juga. Aku bertemu dengan Geny, Dini dan tidak sengaja aku juga melihat Nisa
yang ternyata juga satu perkuliahan yang sama denganku, tapi anehnya lagi dia
sedang bergandengan dengan seorang pria yang juga berpakaian toga gagah, dan
tampan. Hatiku lumpuh pada waktu itu dan tidak bisa berkata apapun. Lalu aku
mendekati Geny dan aku berkata “Geny maafkan aku selama ini, aku tahu apa yang
kau rasakan pada waktu lalu”. Geny menjawab Iya tidak apa-apa Den aku mengerti
dan aku juga tahu diri siapa aku ini. Geny menjawab dengan senyuman yang manis
dan belum pernah kulihat selama aku bersamanya.
Akhirnya acara wisuda
telah selesai pada pukul 5 sore tepat sesudah penyerahan mahasiswa lulusan
terbaik tahun itu. Tanpa aku sadari dan aku tidak percaya, akulah yang menjadi
mahasiswa terbaik tahun itu, lalu aku mengucap kata syukur “Terimakasih Ya
Tuhan, kau selalu membantu umatmu yang kesusahan”. Dan tepat pukul 07.30
setelah maghrib aku sudah memfikirkan hal ini dengan matang untuk mengungkapkan
kata cintaku yang aku pendam selama ini terhadap Geny. Aku membawakan seutas
bunga mawar pink kepadanya dan mengungkapan bahwa aku sudah suka dengan Geny
sejak awal bertemu, tetapi aku tidak berani untuk mengungkapkanya dan berbicara
jujur kalau aku mengungkapkan rasa cinta dan sayang kepada Nisa hanya
pelampiasanku karena aku tidak sanggup mengungkapkan rasa cinta dan sayangku ke
kamu Geny, sekali lagi maafkan aku. Lalu Geny menjawab “Iya aku maafkan”. Aku
mengungkapkan perasaanku “apakah kau bersedia untukku lamar dirimu?” dan Geny
berkata “Ya” dan tersenyum lebar. Akupun senang sekali akhirnya semua indah
pada waktunya. Study lancar, Relationship juga lancar walaupun kadang
relationship tidak selalu berjalan lancar.
Pada akhirnya Akupun menikahi Geny dan aku bekerja
di perusahaan ternama, dan di karuniai putri kecil yang manis, hidup bahagia
bersama sampai akhir hayat, Amin.
by: azizbardja
Follow my Instagram: @azizbardja